8 Tanda Lelaki
Bermasa Depan Yang Cerah
1.
Punya Tujuan Hidup
Ketika Anda
bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda
rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun
mendatang, lima tahun, dan seterusnya.
Bahkan, ia
menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya
menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air
mengalir."
2.
Mandiri
Ia tidak
bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa
pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya
tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung
jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah
mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan,
tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.
3.
Hobi Menolong
Anda tentu pernah
mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima.
Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan
termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati
mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju
kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini
berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.
4.
Bersahabat dan Berwawasan
Sikapnya yang
bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati
banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan
kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini
akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak
orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini,
Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan
pun akan segera menghampiri.
5.
"Family Man"
Pria yang
bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga
memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan
karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria
tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu
dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.
6.
Memiliki Investasi
Saat ini gaji si
dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur
pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia
termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar,
berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha
sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah
atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini
menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.
7.
Realistis dan Lurus
Meskipun si dia
bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian,
jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan
masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang
dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu
memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat
temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki
kelebihan yang berbeda-beda.
8.
Optimistis dan Positif
Ia sangat tahu apa
yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat
berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia
hampir tak pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh
melakukannya". Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap
tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus
dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.
Wanita Shalihah
Sungguh sangat beruntung
bagi wanita shalihah di dunia ini. Ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan
berperan melahirkan generasi dambaan. Kalau pun ia wafat, maka Allah akan
menjadikannya bidadari di akhirat nanti. Oleh karena itu, para pemuda jangan
sampai salah memilih pasangan hidup. Pilihlah wanita shalihah untuk dijadikan
istri dan pendamping hidup setia.
Siti Khadijah r.a. adalah
figur seorang istri shalihah yang menjadi penentram batin, pendukung setia, dan
penguat semangat suami dalam berjuang dan beribadah kepada Allah SWT. Beliau
telah berkorban dengan harta, kedudukan, dan diri beliau demi membela
perjuangan Rasulullah Saw. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah r.a.,
hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasul walau beliau sendiri sudah
meninggal.
Allah berfirman dalam QS.
An Nuur ayat 30-31, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farji
(kemaluan) - nya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita
beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farji- nya dan
janganlah mereka menampakkan perhiasan kecuali yang biasa nampak dari padanya.
Rasulullah Saw. bersabda :
Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.
(HR. Muslim).
Ciri khas seorang wanita
shalihah adalah ia mampu menjaga pandangannya. Ciri lainnya, dia senantiasa
taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu.
Lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di mana pun berada. Celak
matanya adalah memperbanyak bacaan Al Quran. Jika seorang muslimah menghiasi
dirinya dengan perilaku takwa, akan terpancar cahaya keshalihahan dari dirinya.
Wanita shalihah tidak mau
kekayaan termahalnya berupa iman akan rontok. Dia juga sangat memperhatikan
kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah
centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan sesuatu
kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan
untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa
kemuliaannya justru bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah
senyum, karena senyum sendiri adalah shadaqah. Namun, tentu saja senyumnya
proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis.
Intinya, senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan
fitnah bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika kaum wanita kerja keras berlatih
senyum manis semata untuk meluluhkan hati laki-laki.
Wanita shalihah juga harus
pintar dalam bergaul dengan siapapun. Dengan pergaulan itu ilmunya akan terus
bertambah, sebab ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia
temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik sehingga hal itu berbuah kebaikan
bagi dirinya maupun orang lain. Pendek kata, hubungan kemanusiaan dan taqarrub
kepada Allah dilakukan dengan sebaik mungkin.
Ia juga selalu menjaga
akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah dari kemampuannya
memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak
tanduknya akan selalu terkontrol. Tidak akan ia berbuat sesuatu yang menyimpang
dari bimbingan Al Quran dan As Sunnah. Dan tentu saja godaan setan bagi dirinya
akan sangat kuat. Jika ia tidak mampu melawan godaan tersebut, maka bisa jadi
kualitas imannya berkurang. Semakin kurang iman seseorang, maka makin kurang
rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, maka makin buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita
shalihah itu adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya
bukan dari beraneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga
kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu
saat bisa jadi anugerah yang bernilai . Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan
bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan
fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit
hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia
tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah
sehingga make up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan.
Bahkan, kalaupun ia polos tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan
tetap terpancar dan menyejukan hati tiap-tiap orang di sekitarnya. Karena ia
yakin betul bahwa Allah tidak akan pernah meleset memberikan karunia kepada
hamba-Nya. Makin ia menjaga kehormatan diri dan keluarganya, maka Allah akan
memberikan karunia terbaik baginya di dunia dan di akhirat.
Jika ingin menjadi wanita
shalihah, maka banyak-banyaklah belajar dari lingkungan sekitar dan orang-orang
yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh
istri-istri Rasulullah Saw. Seperti Siti Aisyah yang terkenal dengan
kecerdasannya dalam berbagai bidang ilmu. Ia terkenal dengan kekuatan
pikirannya. Seorang istri seperti beliau adalah seorang istri yang bisa
dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Bisa jadi wanita shalihah
itu muncul dari sebab keturunan. Bila kita melihat seorang pelajar yang baik
akhlaknya dan tutur katanya senantiasa sopan, maka dalam bayangan kita
tergambar diri seorang ibu yang telah mendidik dan membimbing anaknya menjadi
manusia yang berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug
muncul tanpa didahului sebuah proses yang memakan waktu. Disini faktor
keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan,
keteladanan dan lain-lain. Apa yang nampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu
yang tersembunyi.
Banyak wanita bisa sukses.
Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita
bergantung ketaatannya pada aturan-aturan yang Allah pimpinkan. Dan
aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja berlaku bagi wanita yang
sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri yang berumah tangga. Tidak akan rugi
jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan
lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan
menambah kualitas ilmu, amal dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan,
Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman di
sekelilingnya. Usahakanlah kita mampu memberikan warna yang baik bagi orang
lain, bukan sebaliknya malah kita yang diwarnai oleh pengaruh buruk orang lain.
Jika para wanita muda mampu
menjaga diri dan memelihara akhlaknya, maka iman kaum laki-laki akan semakin
kuat. Cahaya keshalihahan wanita mukminah akan menjadi penyejuk sekaligus
peneguh hati orang-orang beriman. Apalagi bagi kaum muda yang sangat rentan
dari godaan syahwat. Mereka harus dibantu dalam melawan godaan-godaan.
Peran wanita shalihah
sangat besar dalam keluarga dan bahkan negara. Kita pernah mendengar, bahwa di
belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat.
Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka bisa
dibayangkan, berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini wanita hanya
ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa
peran tertentu yang serius. Dalam sebuah keterangan diyatakan bahwa bejatnya
akhlak wanita bisa menyebabkan hancurnya sebuah negara. Bukankah wanita itu
adalah negara? Bayangkanlah, jika tiang-tiang penopang bangunan itu rapuh, maka
sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah, sehingga tidak akan
ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.
Jadi kita tinggal memilih,
apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi
tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah
dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga
kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita
shalihah akan melekat pada diri kaum wanita kita.
Istri Solehah
Istri solehah ialah
seorang istri yang berpegang teguh dengan hukum agama & taat kepada
Rasulullah SAW, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah & senantiasa
memohon keampunan demi mencari keredhaan Allah SWT..
Hidupnya adalah
berlandaskan keimanan seperti yang disarankan oleh Islam.
Istri Solehah akan senantiasa berusaha untuk memastikan rumah tangganya
dilandaskan ketaqwaan, kasih kepada akhlak dan adab sopan karena ia berpegang dengan
prinsip mulia yaitu agama.
Istri Solehah akan
senantiasa berdiri disamping Suami serta membantunya dalam menegakan kebenaran
& menghapuskan segala perkara maksiat dan dia juga adalah pendorong Suami untuk
menjalankan ketaatan, baik ketaatan dalam hal ibadah ataupun dalam pekerjaan
sehari - hari.
Istri juga merupakan
pemberi semangat ketika Suami dilanda perasaan putus asa & kecewa dalam
memburu kesuksesan di dunia dan akhirat.
Istri Solehah akan
senantiasa sabar apabila Suami ditimpa masalah baik dari segi keuangan,
kesehatan, maupun masalah pelik lainnya. semuanya dilakukan dengan Redha tanpa
meminta balasan atau mengungkit segala pengorbanannya kepada Suami selama ini.
justru dia sadar bahwa semua itu adalah tanggung jawabnya.
Istri Solehah akan
senantiasa menghargai kebaikan Suami & menyimpan segala rahasia yang bisa
membawa aib utk Suami dan Keluarganya.
Kesetiaan seorang Istri yang
solehah untuk Suami dan anak - anaknya hanyalah karena Allah semata, serta
ganjarannya di akherat kelak. Istri yang seperti ini yang diperlukan oleh
masyarakat untuk melahirkan generasi penerus yang berbekal Iman dan Taqwa, agar
membentuk masyarakat yang tenang, stabil, berwawasan, dan berbasic agama Islam
yang kuat.
"....sebab itu maka
wanita yang soleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka)....."(QS
An-Nisa': 34)
Rasulullah SAW bersabda dalam
hadistnya: " Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian..karena sesungguhnya
aku melihat kalian adalah lebih banyak penghuni neraka.."
mereka bertanya: 'mengapa demikian wahai Rasulullah?', Rasulullah SAW menjawab:
"karena kalian cepat mengutuk, banyak mencela, dan selalu mengingkari
kebaikan suami".
10
Wasiat Istri Sholehah
1.
Takwa kepada Allah dan menjauhi
maksiat
Bila
engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah
kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang
kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat
maksiat kepada Allah.
Wahai
hamba Allah..! jagalah Allah maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan
rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya,
sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.
Karena
itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan
berpaling dari suaminya, ia berkata:Aku mohon ampun kepada Allah! itu terjadi
karena perbuatan tanganku (kesalahanku) Maka hati-hatilah wahai saudariku
muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:
·
Meninggalkan shalat atau
mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar.
·
Duduk di majlis ghibah dan namimah,
berbuat riya dan sum’ah.
·
Menjelekkan dan mengejek orang
lain. Allah berfirman :”Wahai orang-orang yang briman janganlah suatu kaum
mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan janganlah
wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita
(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita yang mengolok-olokkan(QS. Al
Hujurat: 11).
·
Keluar menuju pasar tanpa
kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Rasulullah
bersabda: Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri
yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya (HR. Muslim).
·
Mendidik anak dengan pendidikan
barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pambantu dan pendidik-pendidik
yang kafir.
·
Meniru wanita-wanita kafir.
Rasulullah bersabda: Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan
mereka (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud serta dishahihkan Al-Albany).
·
Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.
·
Tabarruj (pamer kecantikan) dan
sufur (membuka wajah).
·
Membiarkan sopir dan pembantu
masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan yang mendesak.
2.
Berupaya mengenal dan memahami
suami.
Hendaknya
engkau berupaya memahami suamimu. Apa–apa yang ia sukai, berusahalah
memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan
catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah Azza Wajalla).
3.
Ketaatan yang nyata kepada suami
dan bergaul dengan baik.
Sesungguhnya hak suami
atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda: Seandainya aku boleh
memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri
untuk sujud kepada suaminya (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh
Al-Albany).
Hak suami yang pertama
adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam
bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah bersabda: Dua golongan
yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari
tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia
kembali (HR. Thabrani dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albany).
Ketahuilah, engkau
termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah
dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan baiknya pergaulanmu
terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan izin Allah).
4.
Bersikap qanaah (merasa cukup).
Kami
meninginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik itu
sedikit ataupun banyak.
Maka
janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang
tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku muslimah, adabnya wanita salaf
radhiallahu ¡Æanhunna¡ÄSalah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar
rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu??? Ia berkata pada
suaminya:Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena
kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api
neraka
5.
Baik dalam mengatur urusan rumah
tangga.
Seperti
mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan
rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya.
Termasuk
pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya
(dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat
kecantikan.
6.
Baik dalam bergaul dengan
keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya dengan ibu suami sebagai orang
yang paling dekat dengannya.
Wajib
bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa
hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya
selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
7.
Menyertai suami dalam perasaannya
dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.
Jika
engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita dan
kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin, Khadijah
radhiallahu’anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal dunia..
Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau, kenangan
bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus mengenangnya
dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi.
Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyur sehingga menjadikan
Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa bahagia setelah
bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama: Demi Allah, Allah tidak
akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi,
menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau
menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.(HR. Mutafaq alaihi, Bukhary dan
Muslim).
8.
Bersyukur (berterima kasih)
kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya.
Wahai
istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat kau tunjukkan dengan
senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa
ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau
ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali
cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan
hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu.
9.
Menyimpan rahasia suami dan menutupi
kekurangannya (aibnya).
Istri adalah tempat
rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu
kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk
dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi.
Saudariku, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau
tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan
dzalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.
10. Kecerdasan
dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan.
Termasuk
kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan
sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah telah
melarang hal itu dalam sabdanya: Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita
lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya
melihatnya (HR. Bukhary dalam An-Nikah).