Search
And Rescue
S.A.R.
Adalah usaha
atau kegiatan pencarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap seseorang /
manusia maupun material / benda berhargayang dinyatakan hilang atau
dikhawatirkan hilang atau dalam menghadapi suatu keadaan bahaya / darurat /
musibah / bencana alam.
- Awareness Stage (Tahap Kekhawatiran)
Adalah
kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul (saat disadarinya
terjadi keadaan darurat/ musibah)
- Initial Action Stage (Tahap Kesiagaan/ Preliminary Mode)
Adalah tahap seleksi informasi yang
diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan bahwa berdasarkan informasi
tersebut, maka keadaan darurat saat itu diklasifikasikan sebagai
a.
INCERFA
(Uncertainity Phase/ Fase meragukan) :
adalah suatu keadaan emergency yang
ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan jiwa seseorang karena
diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan.
b.
ALERFA
(Alert Phase/ Fase Mengkhawatirkan/ Siaga) :
adalah suatu keadaan emergency yang
ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai keselamatan jiwa seseorang
karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan yang
serius yang mengarah pada kesengsaraan (distress).
c.
DITRESFA
(Ditress Phase/ Fase Darurat Bahaya) :
adalah suatu keadaan emergency yang
ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh seseorang yang
tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau keadaan darurat
bahaya. Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah yang diterima bisa
ditunjukkan tingkat keadaan emergency dan dapat langsung pada tingkat ditresfa
yang banyak terjadi.
- Planning Stage (Tahap Perencanaan/ Confinement Mode)
Yaitu saat dilakukan suatu tindakan
sebagai tanggapan (respons) terhadap keadaan sebelumnya, antara lain :
·
Search Planning Event (tahap
perencanaan pencarian).
·
Search Planning Sequence (urutan
perencanaan pencarian).
·
Degree of Search Planning (tingkatan
perencanaan pencarian).
·
Search Planning Computating
(perhitungan perencanaan pencarian).
- Operation Stage (Pertolongan)
Detection Mode/ Tracking Mode And
Evacuation Mode, yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan pertolongan
serta penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi meliputi :
·
Fasilitas SAR bergerak ke lokasi
kejadian
·
Melakukan pencarian dan mendeteksi
tanda-tanda yang ditemui yang diperkirakan ditinggalkan survivor (Detection
Mode).
·
Mengikuti jejak atau tanda-tanda
yang ditinggalkan survivor (Tracking Mode).
·
Menolong/ menyelamatkan dan
mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini memberi perawatan gawat
darurat pada korban yang membutuhkannya dan membawa korban yang cedera kepada
perawatan yang memuaskan (evakuasi).
·
Mengadakan briefing kepada SRU.
·
Mengirim/ memberangkatkan fasilitas
SAR.
·
Melaksanakan operasi SAR di lokasi
kejadian.
·
Melakukan penggantian/ penjadualan
SRU dilokasi Kejadian
- Mission Conclusion Stage (Tahap Akhir Misi / Evaluasi)
Merupakan tahap akhir operasi SAR,
meliputi penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko, penyiagaan kembali tim
SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu dapat terjadi,
evaluasi hasil kegiatan, mengadakan pemberitaan (Press Release) dan menyerahkan
jenasah korban, survivor kepada yang berhak serta mengembalikan SRU pada
instansi induk masing-masing dan pada kelompok masyarakat.
5 Komponen S.A.R.
1.
Organisasi.
Merupakan
struktur organisasi operasi SAR, meliputi aspek pengerahan unsure koordinasi,
komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup penugasan dan tanggung jawab
untuk penanganan suatu musibah.
2.
Fasilitas.
Adalah komponen
berupa unsure, peralatan / perlengkapan serta fasilitas pendukung lainnya yang
dapat digunakan dalam operasi / misi SAR.
3.
Komunikasi.
Adalah komponen
berupa penyelenggaraan komunikasi sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi
terjadinya musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi serta membina kerja
sama / koordinasi selama operasi SAR berlangsung.
4.
Perawatan
Darurat.
Adalah komponen
berupa penyediaan fasilitas perawatan darurat yag bersifat sementara termasuk
memberikan dukungan terhadap korban / survivor di tempat kejadian / musibah /
bencana sampai ke tempat penampungan /
fasilitas perawatan yang lebih memadai.
5.
Dokumentasi.
Adalah
komponen berupa pendataan laporan / kegiatan, analisa serta data – data
kemampuan yang akan menunjang effisiensi pelaksanaan operasi SAR serta untuk
perbaikan / pengembangan kegiatan – kegiatan misi / operasi SAR yang akan datng.
STRUKTUR ORGANISASI OPERASI S.A.R.
S.C (SAR
COORDINATOR)
Adalah pejabat
yang karena jabatan / wewenangnya bias mengerahkan dan mengendalikan potensi
SAR di wilayahnya. SC mempunyai tanggung jawab penuh dan menjamin dapat dilangsungkannya
suatu operasi SAR yang effisien dengan menggunakan / mengerahkan sumber daya /
potensi SAR di wilayahnya dengan hasil yang optimal.
Tugas S.C :
- Menyelenggarakan koordinasi untuk seluruh unit dan fasilitas SAR di wilayah tanggung jawabnya dengan kebutuhan operasi SAR
- Mengadakan hubungan kerja sama dengan berbagai instansi atau organisasi berpotensi SAR
- Mengadakan aksi / tindakan dengan cepat untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan dengan segera setelah mendapat berita yang berhubungan dengan kejadian musibah
S.M.C (SAR MISSION COORDINATOR)
Adalah orang
yang mengetahui secara teknis tentang SAR / untuk melakukan koordinasi dan
pengendalian operasi SAR. Dalam hal ini yang penting diperhatikan bahwa seorang
SMC harus mengendalikan setiap unsure yang akan digunakan dalam operasi SAR
tersebut.
Kualifikasi /
kemampuan SMC adalah dapat memberikan komando pengendalian terhadap suatu misi
operasi SAR dan memahami proses maupun teknik – teknik pencarian dan
pertolongan atau penyelamatan serta mampu membuat rencana operasi sesuai dengan
pedoman – pedoman yang ada sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berlangsung
secara efektif dan effisien.
Tugas S.M.C :
- Melakukan evaluasi dan analisa dari setiap informasi yang berhubungan dengan kejadian SAR (musibah) serta berhubungan dengan pelaksana operasi
- Membuat perencanaan operasi SAR
- Menentukan search area
- Menyiagakan unsure SAR yang akan membantu pelaksanaan operasi SAR
- Memilih SRU yang akan bergerak di lapangan / membantu di posko maupun sebagai tim bantuan operasi
- Memberangkatkan unsur SAR sesuai dengan keadaan
- Menunjuk OSC jika memang dirasakan perlu
- Meminta bantuan fasilitas SAR jika diperlukan kepada pihak – pihak yang memiliki sarana SAR
- Melakukan pengendalian operasi SAR
- Memberikan penjelasan kepada public tentang perkembangan operasi SAR
- Membuat laporan secara periodic
- Mengadakan konsultasi dengan SC untuk penghentian operasi SAR
Adalah seseorang
yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasikan dan megendalikan unsur SAR di
lapangan, yang artinya melaksanakan sebagian tugas tanggung jawab SMC yang
dilimpahkan kepadanya. Seorang OSC minimal memiliki
kualifikasi/kompetensi seperti seorang SMC
Tugas O.S.C :
1.
Melaksanakan
kegiatan operasi SAR sesuai dengan SMC
2.
Membuat
modifikasi perencanaan sesuai dengan keadaan di lapangan / setiap perubahan
harus dilaporkan kepada SMC
(mengembangkan rencana Operasi berdasarkan situasi yang
berubah setiap saat di lapangan karena perubahan cuaca dan kondisi medan)
3.
Membuat
perkiraan tentang operasi SAR
4.
Memplot
search area dan pola pencarian tiap SRU
5.
Mengadakan
hubungan (komunikasi) dengan SMC dan SRU di lapangan
6.
Membuat
laporan situasi secara periodik / berkala kepada SMC, a/l :
a.
Laporan
tentang kekuatan tim dan personil SRU
b.
Laporan
tentang keadaan medan search area dan cuaca
c.
Laporan
tentang perkembangan kegiatan operasi SAR di lapangan
d.
Laporan
tentang perubahan rencana yang diberikan oleh SMC
e.
Meminta
bantuan jika diperlukan
f.
Memberikan
rekomendasi / saran untuk kelanjutan pelaksanaan operasi SAR
Adalah unit –
unit SAR yang mendapat tugas untuk melaksanakan kegiatan / operasi SAR di
lapangan. Pemilihan SRU secara garis besar dititik beratkan pada dua hal, yaitu
:
a.
Kemampuan
Operasional (stamina, kekuatan, peralatan dan perlengkapan, dukungan logistik
yang dibawa)
b.
Latihan
dan Pengalaman (latihan SAR, teknik bertahan hidup di alam bebas dan pengalaman
dalam operasi SAR)
Tugas SRU :
1. Melaksanakan rencana Operasi sesuai briefieng yang
diberikan oleh SMC/OSC
2. Melaporkan perkembangan Operasi kepada SMC/OSC
3. Memberikan informasi kepada SMC/OSC tentang kemampuan
Operasi yag akan berpengaruh terhadap efektifitas Operasi (kecepatan gerak,
daya tahan SRU di lapangan, dll)
Staff Administrasi
1.
Mendata
personil SRU
2.
Menyiapkan
surat tugas untuk SRU
3.
Menyiapkan
sarana administrasi
4.
Membuat
data subyek
5.
Memperbanyak
kronologis (up.date)
6.
Cheking
kesiapan SRU untuk operasi SAR
Staff Komunikasi
1.
Membuat
dan mempersiapkan sarana komunikasi
2.
Membuka
dan meminta ijin frekwensi yang akan digunakan (call sign kepada pihak yang
berwenang)
3.
Membuat
jaringan komunikasi
4.
Membuat
penataran secara singkat kepada SRU tentang prosedur operasi SAR
5.
Membuat
log book / record berita yang diterima setiap hari
Staff Logistik
1.
Mendata
kebutuhan logistik untuk operasi SAR
2.
Menyiapkan
dan mencari dukungan untuk kebutuhan logistik dari pihak – pihak terkait
3.
Memenuhi
kebutuhan minimum logistik tiap SRU
4.
Merekapitulasi
penerimaan dan pengeluaran logistik
Staff Plotting (Navigasi / Pemetaan)
1.
Menyiapkan
peta operasi
2.
Memplot
area pencarian sesuai dengan arahan SMC
3.
Memplot
area yang telah dilakukan pencarian
4.
Memplot
penemuan – penemuan barang yang tercecer yang diduga / digunakan survivor
5.
Mempersiapkan
alat navigasi
6.
Mengadakan
test navigasi
7. Mengisi marker untuk SRU
E.SAR ( EXPLORER SEARCH AND RESCUE )
E.SAR Mode
Teknik Pencarian
1.
Preliminary Mode
Tindakan
awal dari E.SAR, yaitu upaya untuk memp[eroleh informasi mengenai data darurat
gunung hutan, analisa data darurat, Penentuan area dengan POD (Probability Of
Detection) tertinggi, perencanaan pencarian awal.
2.
Confinement Mode
Upaya
melakukan pengurungan dengan maksud agar area pencarian tidak semakin meluas
dan memastikan bahwa survivor / subyek tetap berada di dalam area pencarian.
Pemikiran yang melatar belakangi confinement adalah menjebak subyek dalam satu
area yang diketahui batas - batasnya sampai area itu dapat disapu oleh tim
pencari. (Confinement mungkin tidak mudah dicapai, namun untuk daerah pencarian
yang cukup luas ini akan sangat berharga dan suatu kerja yang ada dasarnya)
Metode
Confinement :
a.
Blockintg
Menutup
jalan setapak dan jalan desa dengan menempatkan personil untuk mengetahui sosok
yang keluar masuk desa
v ) Trail Block
Team
kecil dikirimkan untuk memblokir jalan setapak yang keluar masuk search area.
Mereka mencatat nama – nama dan data – data dari setiap orang yang meninggalkan
search area dan memberitahu seseorang yang akan masuk area tentang orang
hilang. Setidak – tidaknya satu orang tetap berjaga sepanjang waktu dan dapat
memperhitungkan bahwa tidak seorangpun dapat lolos / lewat tanpa diketahui.
Trail block harus tetap dijaga / diawasi sepanjang waktu sampai OSC / SMC
memerintahkan / menginstruksikan selanjutnya.
Trail
block di gunung dapat dilakukan dengan memblokir jalan – jalan setapak yang
dijadikan pintu keluar – masuk oleh para pendaki dan jalur – jalur setapak yang
biasa digunakan oleh warga setempat untuk keluar – masuk hutan saat mencari
rumput atau kayu bakar
v) Road Block
Pada
dasarnya sama dengan trail block, hanya road block dapat dilakukan oleh tenaga
sukarela dengan menggunakan kendaraan, dalam hal ini memblokir jalan – jalan
desa atau perkebunan dengan maksud apabila subyek / survivor lewat dijalur ini
dapat segera diketahui oleh tim pencari.
Road
block di gunung dapat dilakukan dengan menghadang di jalan lingkar yang
menyabuk di kaki gunung yang dicurigai kemungkinan subyek / survivor melalui
jalur tersebut setelah lolos / keluar dari hutan
b.
Look
Out
Sering
ada tempat – tempat di sekitar batas search area yang memberikan pandangan yang
luas ke arah lembah / sungai. Sebuah tim kecil di tempatkan pada posisi
tersebut sehingga dapat mengawasi daerah sekitarnya dengan teropong dan ada
kemungkinan dapat mendeteksi subyek / survivor jika ia lewat disana. Beberapa
bentuk peralatan (asap, bunyi peluit / teriakkan, lampu, bendera) dapat
digunakan untuk menarik perhatian subyek / survivor. Dapat juga dilakukan
dengan tetap menempatkan orang pengamat, sementara tim kecil lain dapt bergerak
memeriksa beberapa lokasi lain dan obyek – obyek yang mencurigakan yang berada
di dalam jarak pandang pengamatan.
c.
Camp
In
Sebuah
camp-in dapat juga berbentuk look-out (pos pengamat), trail block, radio relay
atau situasi lain dimana satu tim kecil menempati lokasi – lokasi tertentu
dimana posisinya mempuyai luas pandangan yang baik, cabang / pertemuan dari
jalan – jalan setapak, pertemuan sungai dan lain – lain. Pergunakan alat – alat
yang dapat menarik perhatian subyek / survivor seperti pada look-out.
d.
Track
Traps
Adalah
upaya dari tim pencari untuk menjebak subyek / survivor sehingga meninggalkan
tanda – tanda apabila lewat di lokasi ini. Posisi pemasangan track traps harus
diinformasikan kepada tim pencari di lapangan agar mengetahui lokasi track
traps. Debu atau lumpur dapat digunakan untuk mendeteksi jejak subyek /
survivor jika dia melaluinya dan harus diperiksa secara berkala.
e.
String
Line
Look
out, camp-in, khususnya akan lebih efektif pada daerah – daerah terbuka dimana
luas penampang baik. Di daerah bersemak lebat, tagged string lines (bentangan
tali yang bertanda) akan lebih efektif untuk menjebak subyek / survivor dan
mengarahkannya ke jalur setapak / posko SAR. Selain itu string lines dapat
difungsikan untuk membatasi search area dan menandai sector pencarian di daerah
yang berhutan rapat
3.
Detection Mode
Pemeriksaan
pada tempat – tempat yang dicurigai bahwa subyek / survivor kemungkinan besar
berada di tempat – tempat tersebut, selanjutnya dilakukan penyapuan di area
yang potensial dengan perhitungan menemukan jejak subyek / survivor yang akan
membawa ke posisi subyek / survivor. Detection adalah suatu tindakabn atas
dasar pertimbangan untuk kemungkinan menemukan subyek / survivor atau barang –
barang yang tercecer yang ditinggalkannya, yang apabila saat dilakukan
detection ditemukan tanda – tanda subyek / survivor hal ini akan semakin
mempersempit search area.
Metode
Detection :
a.
Type
I Search (Hasty Searching)
Pemeriksaan
informal secepat mungkin pada daerah – daerah yang dicuriogai berdasarkan
analisa dari data darurat gunung hutan. Ini dilakukan pada awal operasi
pencarian dimana tim kecil yang dapat bergerak cepat memeriksa daerah – daerah
yang dicurigai (seperti alur sungai, jalur – jalur pewrcabangan, dll.). Selain
memeriksa titik – titik duga, tim kecil ini juga membantu OSC / SMC dalam
merencanakan search area
b.
Type
II Search (Open Grid)
Pencarian
yang cepat dan sistematis atas area yang luas dengan metode penyapuan. Metode
ini digunakan terutama jika perhitungan waktu untuk bertahan hidup dari subyek
/ survivor sangat pendek dan jumlah dari tim pencari kurang mencukupi untuk menyapu
search area yang luas. Pencarian menyapu dengan jarak yang lebar diantara tim
pencari. Open grid efektif dilakukan untuk medan terbuka dengan jarak pandang
luas.
Untuk
type ini diperlukan kemampuan kerja individual dari tim pencari, karena jarak
lebar antar personil dari tim pencari yang bergerak berjajar tersebut kadang
menuntut kemampuan individu untuk tetap dapat bergerak dan sekaligus mengadakan
pengamatan sepanjang area penyapuan.
N.B.
: Penggunaan open grid akan
menyengsarakan dan mengacaukan operasi pencarian apabila personil pencari
selain tidak berpengalaman juga tidak cukup terlatih untuk dapat bergerak
menjelajah gunung hutan menggunakan peta dan kompas.
c.
Type
III (Close Grid)
Pencarian
yang cermat atas area yang spesifik. Pencarian menyapu dengan jarak penyapuan
lebih pendek / sempit, pita – pita string lines swelalu dipergunakan untuk
mengontrol, hal ini sangat penting untuk membrikan tanda – tanda yang jelas
antara daerah yang telah dicari dan yang belum.
Jika
metode open grid telah digunakan dan POD (probability of detection) lebih
rendah dari yang diharapkan. Metode close grid ini digunakan jika search area
terbatas dan tenaga kerja / potensi SDM yang ada mencukup.
4.
Tracking Mode
Tracking
merupakan usaha untuk melacak dan mengikuti jejak – jejak atau tanda – tanda
yang ditinggalkan oleh subyek / survivor (tracking diperlukan personil yang
terlatih atau dapat juga menggunakan bantuan anjing pelacak yang terlatih
secara khusus untuk terlibat dalam operasi pencarian).
5.
Evacuation Mode
Usaha untuk pertolongan pertama gawat darurat
untuk subyek / survivor setelah ditemukan dan membawanya ke tempat yang lebih
aman dan nyaman (adanya tim khusus / tim evakuasi medan sulit).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar