Jumat, 18 April 2014

Explorer Search And Rescue



Search And Rescue
S.A.R.
Adalah usaha atau kegiatan pencarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap seseorang / manusia maupun material / benda berhargayang dinyatakan hilang atau dikhawatirkan hilang atau dalam menghadapi suatu keadaan bahaya / darurat / musibah / bencana alam.

         5 Tahapan Operasi S.A.R.
 
  1. Awareness Stage (Tahap Kekhawatiran) 
Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul (saat disadarinya terjadi keadaan darurat/ musibah)
  1. Initial Action Stage (Tahap Kesiagaan/ Preliminary Mode)
Adalah tahap seleksi informasi yang diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan bahwa berdasarkan informasi tersebut, maka keadaan darurat saat itu diklasifikasikan sebagai
a.      INCERFA (Uncertainity Phase/ Fase meragukan) :
adalah suatu keadaan emergency yang ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan jiwa seseorang karena diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan.
b.      ALERFA (Alert Phase/ Fase Mengkhawatirkan/ Siaga) :
adalah suatu keadaan emergency yang ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai keselamatan jiwa seseorang karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi kesulitan yang serius yang mengarah pada kesengsaraan (distress).
c.       DITRESFA (Ditress Phase/ Fase Darurat Bahaya) :
adalah suatu keadaan emergency yang ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh seseorang yang tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau keadaan darurat bahaya. Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah yang diterima bisa ditunjukkan tingkat keadaan emergency dan dapat langsung pada tingkat ditresfa yang banyak terjadi.
  1. Planning Stage (Tahap Perencanaan/ Confinement Mode)
Yaitu saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan (respons) terhadap keadaan sebelumnya, antara lain :
·         Search Planning Event (tahap perencanaan pencarian).
·         Search Planning Sequence (urutan perencanaan pencarian).
·         Degree of Search Planning (tingkatan perencanaan pencarian).
·         Search Planning Computating (perhitungan perencanaan pencarian).
  1. Operation Stage (Pertolongan)
Detection Mode/ Tracking Mode And Evacuation Mode, yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan pertolongan serta penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi meliputi :
·         Fasilitas SAR bergerak ke lokasi kejadian
·         Melakukan pencarian dan mendeteksi tanda-tanda yang ditemui yang diperkirakan ditinggalkan survivor (Detection Mode).
·         Mengikuti jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan survivor (Tracking Mode).
·         Menolong/ menyelamatkan dan mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini memberi perawatan gawat darurat pada korban yang membutuhkannya dan membawa korban yang cedera kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi).
·         Mengadakan briefing kepada SRU.
·         Mengirim/ memberangkatkan fasilitas SAR.
·         Melaksanakan operasi SAR di lokasi kejadian.
·         Melakukan penggantian/ penjadualan SRU dilokasi Kejadian
  1. Mission Conclusion Stage (Tahap Akhir Misi / Evaluasi)
Merupakan tahap akhir operasi SAR, meliputi penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko, penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang sewaktu-waktu dapat terjadi, evaluasi hasil kegiatan, mengadakan pemberitaan (Press Release) dan menyerahkan jenasah korban, survivor kepada yang berhak serta mengembalikan SRU pada instansi induk masing-masing dan pada kelompok masyarakat.
 

5 Komponen S.A.R.
 
1.      Organisasi.
Merupakan struktur organisasi operasi SAR, meliputi aspek pengerahan unsure koordinasi, komando dan pengendalian, kewenangan, lingkup penugasan dan tanggung jawab untuk penanganan suatu musibah.
2.      Fasilitas.
Adalah komponen berupa unsure, peralatan / perlengkapan serta fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam operasi / misi SAR.
3.      Komunikasi.
Adalah komponen berupa penyelenggaraan komunikasi sebagai sarana untuk melakukan fungsi deteksi terjadinya musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi serta membina kerja sama / koordinasi selama operasi SAR berlangsung.
4.      Perawatan Darurat.
Adalah komponen berupa penyediaan fasilitas perawatan darurat yag bersifat sementara termasuk memberikan dukungan terhadap korban / survivor di tempat kejadian / musibah / bencana sampai ke tempat penampungan  / fasilitas perawatan yang lebih memadai.
5.      Dokumentasi.
            Adalah komponen berupa pendataan laporan / kegiatan, analisa serta data – data kemampuan yang akan menunjang effisiensi pelaksanaan operasi SAR serta untuk perbaikan / pengembangan kegiatan – kegiatan misi / operasi SAR yang akan datng.



STRUKTUR ORGANISASI OPERASI S.A.R.



S.C (SAR COORDINATOR)
Adalah pejabat yang karena jabatan / wewenangnya bias mengerahkan dan mengendalikan potensi SAR di wilayahnya. SC mempunyai tanggung jawab penuh dan menjamin dapat dilangsungkannya suatu operasi SAR yang effisien dengan menggunakan / mengerahkan sumber daya / potensi SAR di wilayahnya dengan hasil yang optimal.
Tugas S.C :
    1. Menyelenggarakan koordinasi untuk seluruh unit dan fasilitas SAR di wilayah tanggung jawabnya dengan kebutuhan operasi SAR
    2. Mengadakan hubungan kerja sama dengan berbagai instansi atau organisasi berpotensi SAR
    3. Mengadakan aksi / tindakan dengan cepat untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan dengan segera setelah mendapat berita yang berhubungan dengan kejadian musibah
S.M.C (SAR MISSION COORDINATOR)
Adalah orang yang mengetahui secara teknis tentang SAR / untuk melakukan koordinasi dan pengendalian operasi SAR. Dalam hal ini yang penting diperhatikan bahwa seorang SMC harus mengendalikan setiap unsure yang akan digunakan dalam operasi SAR tersebut.
Kualifikasi / kemampuan SMC adalah dapat memberikan komando pengendalian terhadap suatu misi operasi SAR dan memahami proses maupun teknik – teknik pencarian dan pertolongan atau penyelamatan serta mampu membuat rencana operasi sesuai dengan pedoman – pedoman yang ada sehingga pelaksanaan operasi SAR dapat berlangsung secara efektif dan effisien.
Tugas S.M.C :
    1. Melakukan evaluasi dan analisa dari setiap informasi yang berhubungan dengan kejadian SAR (musibah) serta berhubungan dengan pelaksana operasi
    2. Membuat perencanaan operasi SAR
    3. Menentukan search area
    4. Menyiagakan unsure SAR yang akan membantu pelaksanaan operasi SAR
    5. Memilih SRU yang akan bergerak di lapangan / membantu di posko maupun sebagai tim bantuan operasi
    6. Memberangkatkan unsur SAR sesuai dengan keadaan
    7. Menunjuk OSC jika memang dirasakan perlu
    8. Meminta bantuan fasilitas SAR jika diperlukan kepada pihak – pihak yang memiliki sarana SAR
    9. Melakukan pengendalian operasi SAR
    10. Memberikan penjelasan kepada public tentang perkembangan operasi SAR
    11. Membuat laporan secara periodic
    12. Mengadakan konsultasi dengan SC untuk penghentian operasi SAR
O.S.C (ON SCENE COMANDER)
Adalah seseorang yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasikan dan megendalikan unsur SAR di lapangan, yang artinya melaksanakan sebagian tugas tanggung jawab SMC yang dilimpahkan kepadanya. Seorang OSC minimal memiliki kualifikasi/kompetensi seperti seorang SMC
Tugas O.S.C :
1.      Melaksanakan kegiatan operasi SAR sesuai dengan SMC
2.      Membuat modifikasi perencanaan sesuai dengan keadaan di lapangan / setiap perubahan harus dilaporkan kepada SMC (mengembangkan rencana Operasi berdasarkan situasi yang berubah setiap saat di lapangan karena perubahan cuaca dan kondisi medan)
3.      Membuat perkiraan tentang operasi SAR
4.      Memplot search area dan pola pencarian tiap SRU
5.      Mengadakan hubungan (komunikasi) dengan SMC dan SRU di lapangan
6.      Membuat laporan situasi secara periodik / berkala kepada SMC, a/l :
a.       Laporan tentang kekuatan tim dan personil SRU
b.      Laporan tentang keadaan medan search area dan cuaca
c.       Laporan tentang perkembangan kegiatan operasi SAR di lapangan
d.      Laporan tentang perubahan rencana yang diberikan oleh SMC
e.       Meminta bantuan jika diperlukan
f.       Memberikan rekomendasi / saran untuk kelanjutan pelaksanaan operasi SAR

S.R.U (SEARCH RESCUE UNIT)
Adalah unit – unit SAR yang mendapat tugas untuk melaksanakan kegiatan / operasi SAR di lapangan. Pemilihan SRU secara garis besar dititik beratkan pada dua hal, yaitu :
a.       Kemampuan Operasional (stamina, kekuatan, peralatan dan perlengkapan, dukungan logistik yang dibawa)
b.      Latihan dan Pengalaman (latihan SAR, teknik bertahan hidup di alam bebas dan pengalaman dalam operasi SAR)
Tugas SRU :
1.      Melaksanakan rencana Operasi sesuai briefieng yang diberikan oleh SMC/OSC
2.      Melaporkan perkembangan Operasi kepada SMC/OSC
3.      Memberikan informasi kepada SMC/OSC tentang kemampuan Operasi yag akan berpengaruh terhadap efektifitas Operasi (kecepatan gerak, daya tahan SRU di lapangan, dll)

Staff Administrasi
1.      Mendata personil SRU
2.      Menyiapkan surat tugas untuk SRU
3.      Menyiapkan sarana administrasi
4.      Membuat data subyek
5.      Memperbanyak kronologis (up.date)
6.      Cheking kesiapan SRU untuk operasi SAR

Staff Komunikasi
1.      Membuat dan mempersiapkan sarana komunikasi
2.      Membuka dan meminta ijin frekwensi yang akan digunakan (call sign kepada pihak yang berwenang)
3.      Membuat jaringan komunikasi
4.      Membuat penataran secara singkat kepada SRU tentang prosedur operasi SAR
5.      Membuat log book / record berita yang diterima setiap hari



Staff Logistik
1.      Mendata kebutuhan logistik untuk operasi SAR
2.      Menyiapkan dan mencari dukungan untuk kebutuhan logistik dari pihak – pihak terkait
3.      Memenuhi kebutuhan minimum logistik tiap SRU
4.      Merekapitulasi penerimaan dan pengeluaran logistik

Staff Plotting (Navigasi / Pemetaan)
1.      Menyiapkan peta operasi
2.      Memplot area pencarian sesuai dengan arahan SMC
3.      Memplot area yang telah dilakukan pencarian
4.      Memplot penemuan – penemuan barang yang tercecer yang diduga / digunakan survivor
5.      Mempersiapkan alat navigasi
6.      Mengadakan test navigasi 
7.    Mengisi marker untuk SRU




E.SAR ( EXPLORER SEARCH AND RESCUE )
E.SAR Mode

Teknik Pencarian

1.      Preliminary Mode
Tindakan awal dari E.SAR, yaitu upaya untuk memp[eroleh informasi mengenai data darurat gunung hutan, analisa data darurat, Penentuan area dengan POD (Probability Of Detection) tertinggi, perencanaan pencarian awal.
 
2.      Confinement Mode
Upaya melakukan pengurungan dengan maksud agar area pencarian tidak semakin meluas dan memastikan bahwa survivor / subyek tetap berada di dalam area pencarian. Pemikiran yang melatar belakangi confinement adalah menjebak subyek dalam satu area yang diketahui batas - batasnya sampai area itu dapat disapu oleh tim pencari. (Confinement mungkin tidak mudah dicapai, namun untuk daerah pencarian yang cukup luas ini akan sangat berharga dan suatu kerja yang ada dasarnya)
Metode Confinement :
a.       Blockintg
Menutup jalan setapak dan jalan desa dengan menempatkan personil untuk mengetahui sosok yang keluar masuk desa
v ) Trail Block
Team kecil dikirimkan untuk memblokir jalan setapak yang keluar masuk search area. Mereka mencatat nama – nama dan data – data dari setiap orang yang meninggalkan search area dan memberitahu seseorang yang akan masuk area tentang orang hilang. Setidak – tidaknya satu orang tetap berjaga sepanjang waktu dan dapat memperhitungkan bahwa tidak seorangpun dapat lolos / lewat tanpa diketahui. Trail block harus tetap dijaga / diawasi sepanjang waktu sampai OSC / SMC memerintahkan / menginstruksikan selanjutnya.
Trail block di gunung dapat dilakukan dengan memblokir jalan – jalan setapak yang dijadikan pintu keluar – masuk oleh para pendaki dan jalur – jalur setapak yang biasa digunakan oleh warga setempat untuk keluar – masuk hutan saat mencari rumput atau kayu bakar

 v)  Road Block
Pada dasarnya sama dengan trail block, hanya road block dapat dilakukan oleh tenaga sukarela dengan menggunakan kendaraan, dalam hal ini memblokir jalan – jalan desa atau perkebunan dengan maksud apabila subyek / survivor lewat dijalur ini dapat segera diketahui oleh tim pencari.
Road block di gunung dapat dilakukan dengan menghadang di jalan lingkar yang menyabuk di kaki gunung yang dicurigai kemungkinan subyek / survivor melalui jalur tersebut setelah lolos / keluar dari hutan 
b.      Look Out
Sering ada tempat – tempat di sekitar batas search area yang memberikan pandangan yang luas ke arah lembah / sungai. Sebuah tim kecil di tempatkan pada posisi tersebut sehingga dapat mengawasi daerah sekitarnya dengan teropong dan ada kemungkinan dapat mendeteksi subyek / survivor jika ia lewat disana. Beberapa bentuk peralatan (asap, bunyi peluit / teriakkan, lampu, bendera) dapat digunakan untuk menarik perhatian subyek / survivor. Dapat juga dilakukan dengan tetap menempatkan orang pengamat, sementara tim kecil lain dapt bergerak memeriksa beberapa lokasi lain dan obyek – obyek yang mencurigakan yang berada di dalam jarak pandang pengamatan.
c.       Camp In
Sebuah camp-in dapat juga berbentuk look-out (pos pengamat), trail block, radio relay atau situasi lain dimana satu tim kecil menempati lokasi – lokasi tertentu dimana posisinya mempuyai luas pandangan yang baik, cabang / pertemuan dari jalan – jalan setapak, pertemuan sungai dan lain – lain. Pergunakan alat – alat yang dapat menarik perhatian subyek / survivor seperti pada look-out.
d.      Track Traps
Adalah upaya dari tim pencari untuk menjebak subyek / survivor sehingga meninggalkan tanda – tanda apabila lewat di lokasi ini. Posisi pemasangan track traps harus diinformasikan kepada tim pencari di lapangan agar mengetahui lokasi track traps. Debu atau lumpur dapat digunakan untuk mendeteksi jejak subyek / survivor jika dia melaluinya dan harus diperiksa secara berkala.
e.       String Line
Look out, camp-in, khususnya akan lebih efektif pada daerah – daerah terbuka dimana luas penampang baik. Di daerah bersemak lebat, tagged string lines (bentangan tali yang bertanda) akan lebih efektif untuk menjebak subyek / survivor dan mengarahkannya ke jalur setapak / posko SAR. Selain itu string lines dapat difungsikan untuk membatasi search area dan menandai sector pencarian di daerah yang berhutan rapat

3.      Detection Mode
Pemeriksaan pada tempat – tempat yang dicurigai bahwa subyek / survivor kemungkinan besar berada di tempat – tempat tersebut, selanjutnya dilakukan penyapuan di area yang potensial dengan perhitungan menemukan jejak subyek / survivor yang akan membawa ke posisi subyek / survivor. Detection adalah suatu tindakabn atas dasar pertimbangan untuk kemungkinan menemukan subyek / survivor atau barang – barang yang tercecer yang ditinggalkannya, yang apabila saat dilakukan detection ditemukan tanda – tanda subyek / survivor hal ini akan semakin mempersempit search area.
Metode Detection :
a.       Type I Search (Hasty Searching)
Pemeriksaan informal secepat mungkin pada daerah – daerah yang dicuriogai berdasarkan analisa dari data darurat gunung hutan. Ini dilakukan pada awal operasi pencarian dimana tim kecil yang dapat bergerak cepat memeriksa daerah – daerah yang dicurigai (seperti alur sungai, jalur – jalur pewrcabangan, dll.). Selain memeriksa titik – titik duga, tim kecil ini juga membantu OSC / SMC dalam merencanakan search area
b.      Type II Search (Open Grid)
Pencarian yang cepat dan sistematis atas area yang luas dengan metode penyapuan. Metode ini digunakan terutama jika perhitungan waktu untuk bertahan hidup dari subyek / survivor sangat pendek dan jumlah dari tim pencari kurang mencukupi untuk menyapu search area yang luas. Pencarian menyapu dengan jarak yang lebar diantara tim pencari. Open grid efektif dilakukan untuk medan terbuka dengan jarak pandang luas.
Untuk type ini diperlukan kemampuan kerja individual dari tim pencari, karena jarak lebar antar personil dari tim pencari yang bergerak berjajar tersebut kadang menuntut kemampuan individu untuk tetap dapat bergerak dan sekaligus mengadakan pengamatan sepanjang area penyapuan.

N.B. : Penggunaan open grid akan menyengsarakan dan mengacaukan operasi pencarian apabila personil pencari selain tidak berpengalaman juga tidak cukup terlatih untuk dapat bergerak menjelajah gunung hutan menggunakan peta dan kompas.

c.       Type III (Close Grid)
Pencarian yang cermat atas area yang spesifik. Pencarian menyapu dengan jarak penyapuan lebih pendek / sempit, pita – pita string lines swelalu dipergunakan untuk mengontrol, hal ini sangat penting untuk membrikan tanda – tanda yang jelas antara daerah yang telah dicari dan yang belum.
Jika metode open grid telah digunakan dan POD (probability of detection) lebih rendah dari yang diharapkan. Metode close grid ini digunakan jika search area terbatas dan tenaga kerja / potensi SDM yang ada mencukup.

4.      Tracking Mode
Tracking merupakan usaha untuk melacak dan mengikuti jejak – jejak atau tanda – tanda yang ditinggalkan oleh subyek / survivor (tracking diperlukan personil yang terlatih atau dapat juga menggunakan bantuan anjing pelacak yang terlatih secara khusus untuk terlibat dalam operasi pencarian).

5.      Evacuation Mode
Usaha untuk pertolongan pertama gawat darurat untuk subyek / survivor setelah ditemukan dan membawanya ke tempat yang lebih aman dan nyaman (adanya tim khusus / tim evakuasi medan sulit).

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar